Doa Makan

Anugrah yang harus kita syukuri yaitu masih diberikan rizeki bisa menikmati makanan. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita harus selalu bersyukur sebagai bentuk terima kasih kepada Allah SWT. Sebagai ekspresi rasa beryukur itu dapat diungkapkan melalui Doa.

Ekspresi dalam berdoa-pun bermacam-macam, seperti yang disebutkan dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi dimana beliau meriwayatkan dalam Shahihain, dari Umar bin Abu Salamah bahwa Rasullah bersabda “Sebutlah bismillah (nama Allah SWT) dan makanlah dengan tangan kananmu”. Dalam Kitab yang sama Imam Nawawi juga meriwayatkan dalam kitab Ibnu Sunni, dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Nabi Muhammad SAW, bahwa apabila makanan dihidangkan maka beliau mengucapkan,

,اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, بِسْمِ اللَّهِ

“Ya Allah, berkahilah kami dalam apa yang Engkau rezekikan kepada kami dan lindungi kami dari siksa neraka. Bismillah”. Doa ini barangkali yang paling masyhur di Indonesia, karena dari kecil kami diajarkan Doa yang kedua ini. Namun, dibalik Doa yang hanya sebatas hafalan tersebut, ternyata memiliki arti yang apabila kita renungkan sungguh indah.

Pertama, redaksi yang digunakan dalam doa tersebut Berkahilah Kami, bukan berkahilah aku yang menujukan hanya seorang diri namun menggunakan kata Jamak (kami), artinya hal ini menujukan bahwa terhidangnya makanan sampai kedepan kita itu melalui proses yang begitu panjang dan melibatkan banyak pihak. Ambil contoh saat kita akan menikmati sesendok nasi, maka pihak yang terlibat apabila dijabarkan akan cukup banyak, meliputi pemilik lahan, kemudian lahan diolah agar siap disebarkan bibit, lalu dirawat agar menjadi padi yang subur, setelah itu dipanen, habis panen masih perlu dijemur yang biasa kita sebut sebagai gabah, setelah dijemur lalu dilakukan penggilingan agar sebutir gabah menjadi beras, setelah menjadi beras kemudian dipasarkan yang melibatkan banyak pihak, sehabis itu masih perlu dimasak baru menjadi nasi yang biasa kita konsumsi. Maka, dengan membaca Doa makan tersebut kita sudah ikut mendoakan semua pihak yang terlibat tadi (dari hulu ke hilir), disini seolah-oleh kita sedang diajarkan bahwa kamu itu makhluk yang sangat lemah, soal sesendok nasi saja membutuhkan banyak pihak, oleh karena itu kita harus peduli terhadap orang-orang yang berjasa kepada kita.

Kedua, Lindungi kami dari siksa neraka yang kalo kita renungkan maka inilah sebaik-baik permintaan sebagi puncak dari sebuah perjalanan hidup manusia mulai alam rahim sampai dengan final kehidupan di akhirat. Dengan permohonan yang diucap itu, seyogyanya membuat hati kita menjadi bersimpuh sepenuhnya dan mengaku bahwa kita hanya seorang hamba dari Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga kita semua mampu mengamalkan doa yang singkat ini dengan penuh penghayatan sebagai bentuk rasa syukur, kesadaran spiritual, senantiasa memohon perlindungan, dan kesinambungan antara nikmat dan tanggungjawab yang diembah sebagai Manusia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *