Seperti yang sudah mashur diketahui bahwa dakwah Raden Syahid atau lebih dikenal dengan Sunan Kalijaga kepada masyarakat jawa saat itu menggunakan media Wayang Kulit. Awal mulanya pertunjukan wayang kulit mengambil epos besar Ramayana dan Mahabarata dari Negri India yang mengisahkan kisah perjalanan Krisna, Rama sampai dengan Perang Bharatayudha. Namun berkat kecerdikan Sunan Kalijaga, beliau mampu memasukan ajaran Islam dalam pertunjukan wayang kulit saat itu, diantara lakon-lakon yang terkenal yaitu Dewa Ruci, Bima Ngaji, Petruk Dadi Raja, dan Jimat Kalimasada.
Dalam pertunjukan wayang kulit yang tak kalah penting yaitu wayang gunungan yang biasanya digunakan oleh Dalang sebagai pembuka atau penutup pertujukan dan pergantian adegan atau cerita. Sejak kecil aku sudah sangat tertarik dalam dunia perwayangan ini, dikarenakan dulu tetangga merupakan Dalang yang biasa dipanggil oleh masyarakat sekitar “Dalang Nono Bagong”. Namun yang tak kalah menarik adalah penjelasan Abahku sendiri mengenai wayang gunungan ala Sunan Kalijaga yang setelah aku renungkan ternyata memiliki filosofi yang begitu agung mengenai aspek kehidupan manusia baik di dunia ataupun kehidupan sesudahnya.

Begini penjelasan filosofi wayang gunungan yang aku pahami dari penuturan Abah,
Pertama, apabila dilihat bentuk wayang gunungan ini memiliki 3 sudut (segitiga) yang biasa disebut sebagai sangkan paraning dumadi yang memiliki sanepo Min Aina (dari mana aku), Fii Aina (lagi dimana aku), dan Ila Aina (dan hendak kemana aku) atau biasa dijelasakan dalam sebuat syair jawa sebagai berikut:
” Aku mbiyen ora ono, ning saiki dadi ono, mbesuk maning ora ono, podo balik maring rohmatulloh”
Artinya Aku mbiyen ora ono yaitu dulu kita semua tidak ada sebelum turun kehendak dari yang maha kuasa untuk mengadakan kita didunia ini melalui perantara orang tua kita. Kemudian Ning saiki dadi ono, maksudnya kita kemudian dilahirkan dan hidup di dunia ini dalam keadaan yang suci, bebas mau melakukan apa aja sesuai kehendak kita, namun ada pertanggungjawaban yang diemban atas baik dan buruknya perilaku kita di dunia. Bait selanjutnya yaitu Mbesuk maning ora ono podo balik maring rohmatulloh, kenyataanya kita tidak hidup abadi didunia ini, kita akan kembali kepada Tuhan yang Maha Esa dan mempertanggungjawabkan atas apa yang pernah kita lakukan didunia.

Kedua, pada pucuk gunungan terdapat gambar Burung Kepodang atau Manuk Podang, burung yang sering diperlombakan karena memiliki suara bagus. Lalu, kenapa disimbolkan dengan Burung, Burung dalam bahasa jawa disebut Kukilo atau kalo di jawa banyumasan Kukila yang dapat dimaknai Ku itu aku atau kita, lalu Kila itu ucapan. Filosofisnya yaitu bahwa manusia hidup di dunia ini akan dihargai karena ucapannya, dimana baik dan buruk orang juga dapat kita identifikasi berdasarkan ucapannya, apakah konsisten, jujur atau malah suka menyakiti orang lain dengan ucapan. Kemudian kenapa secara khusus disimbolkan dengan Manuk Podang yaitu karena kita saat ini sedang di Pupu yang memiliki arti sedang dibiarkan didunia atau sedang digembala, saat ini kita bebas untuk melakukan apa saja, namun perlu diingat bahwa besok esok kita akan di Adang yang artinya kita sebagai manusia akan kembali kepada Tuhan dengan pertanggungjawaban.

Ketiga, dibawah gambar Burung Kepodang terdapat gambang Monyet (Kethek dalam bahasa jawa) dan Lutung. Filosofinya yaitu untuk menggambarkan bahwa terdapat dua tipe manusia. Pertama, disimbolkan dengan gambar Kethek yang memiliki arti tangane nglatek (suka usil dan mencampuri kehidupan orang lain), manusia yang mengingkan kebebasan namun jadi kebablasan dalam arti suka mengambil hak orang lain, tingkah lakunya tanpa disertai kebijaksanaan dan tidak mengenal rasa cukup. Kedua, disimbolkan dengan gambar Lutung yang memiliki arti Lutut Ing Petung (bijaksana dan sebelum melakukan sesuatu senantiasa diperhitungkan baik dan buruknya).

Keempat, terdapat dua buto (wayang raksasa) dengan gambar bangunan yang indah nan luas dibelakangnya. Filosofinya yang dibawakan Sunan Kalijaga yaitu bahwa untuk mencapai tempat yang sempurna, indah dan kekal abadi (Surga) yang digambarkan dengan bangunan yang luas, maka untuk masuk kedalamnya disimbolkan dengan Buto Loro dengan saneka Nyebuto Loro (dua kalimat syahadat).
Satu hal yang tak dapat dipungkiri, dengan dakwah yang dibawakan Sunan Kalijaga saat itu yang mengkombinasikan budaya dengan agama membawa masyarakat jawa berbondong-bondong masuk ke agama Islam.
